Cara Petani Kurangi
Pemanasan Global
Pemanasan global sudah menjadi isu yang dibicarakan
banyak orang, termasuk petani. Ketua
Persatuan Petani Organik (PPO) Sumatera Barat, Marsilan menyampaikan pemansan
global berpengaruh terhadap perubahan iklim yang sekaligus berimbas terhadap
teknik budidaya pertanian.
“Petani sudah saatnya melakukan perubahan system budi
daya pertanian,” katanya di sela persiapan Galanggang Alam Pertanian Organik
(GAPO) ke-3 di Pusat Belajar Rakyat Petani Organik (GAPO) Kelok Jaya, Balai
Salasa, Kenagarian Palangai, Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan
Sumatera Barat, 25 Juni 2013.
Kalau dulu, kata Marsilan, petani melakukan budi daya
padi sawah dengan menggenang dan menggunakan banyak benih, saat ini tidak perlu
lagi. Menggenang padi akan membuat
penguraian bahan organik terhadi dalam kondisi tanpa udara sehingga
mempertinggi produksi gas metana.
“Sekarang, padi tidak perlu lagi digenangi supaya
bahan organik dapat terurai dalam kondisi normal hingga produksi gas metana
dapat diperkecil,” paparnya.
Menurut Marsilan, teknik ini dinamakan teknik System
Rice Intensification (SRI) dimana benih hanya digunakan satu butir untuk satu
rumpun padi, sawah tanpa genangan air dan perlakuan organik.
“Di Sumbar, kita mengenal dengan system tanam padi
sabatang,” imbuhnya.
Selain pengambangan tanam padi sabatang, kata
Marsilan, petani di Sumbar juga sudah mulai mengembangkan instalasi biogas
kotoran ternak.
“Untuk pengembangan biogas, kami belajar banyak dari
program FIELD-Bumi Ceria. Instalasi
sederhana biogas hanya memakan biaya tidak lebih dari satu juta rupiah,” ungkap
Marsilan.
Aktivis Lingkungan, Syafrizaldi, menilai apa yang
dilakukan petani untuk mengurangi emisi gas rumah kaca merupakan langkah kecil
yang berdampak besar.
“Coba saja bayangkan kalau semua petani sawah di
Sumbar menerapkan SRI dan mengembangkan instalasi biogas, sudah berapa banyak
emisi gas metana yang kita kurangi?” katanya.
Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang
mendorong terjadinya pemanasan global.
Selain itu, ada gas karbon dioksida, nitrogen oksida dan tiga gas-gas
industri yang mengandung fluor (HFC, PFC, dan SF6).
Menurutnya, uap air sebetulnya adalah gas rumah kaca
yang paling kuat. Tetapi karena usianya
di atmosfer hanya terbilang beberapa hari, maka potensi pemanasan globalnya
tidak terlalu berpengaruh.
Selain tanam padi sabatang dan pengembangan instalasi
biogas, petani juga dapat melakukan upaya-upaya kecil dengan menanam
pohon.
“Tanam pohon juga tidak butuh modal besar, yang
penting harus dipelihara agar dapat tumbuh dan menghasilkan. Sepanjang pertumbuhannya itu, pohon dapat
mereduksi karbon sehingga meminimalkan emisinya ke udara,” papar Syafrizaldi.