Selasa, 25 Juni 2013

Cara Petani Kurangi Pemanasan Global



Cara Petani Kurangi Pemanasan Global
Pemanasan global sudah menjadi isu yang dibicarakan banyak orang, termasuk petani.  Ketua Persatuan Petani Organik (PPO) Sumatera Barat, Marsilan menyampaikan pemansan global berpengaruh terhadap perubahan iklim yang sekaligus berimbas terhadap teknik budidaya pertanian.
“Petani sudah saatnya melakukan perubahan system budi daya pertanian,” katanya di sela persiapan Galanggang Alam Pertanian Organik (GAPO) ke-3 di Pusat Belajar Rakyat Petani Organik (GAPO) Kelok Jaya, Balai Salasa, Kenagarian Palangai, Kecamatan Ranah Pesisir Kabupaten Pesisir Selatan Sumatera Barat, 25 Juni 2013.
Kalau dulu, kata Marsilan, petani melakukan budi daya padi sawah dengan menggenang dan menggunakan banyak benih, saat ini tidak perlu lagi.  Menggenang padi akan membuat penguraian bahan organik terhadi dalam kondisi tanpa udara sehingga mempertinggi produksi gas metana.
“Sekarang, padi tidak perlu lagi digenangi supaya bahan organik dapat terurai dalam kondisi normal hingga produksi gas metana dapat diperkecil,” paparnya.
Menurut Marsilan, teknik ini dinamakan teknik System Rice Intensification (SRI) dimana benih hanya digunakan satu butir untuk satu rumpun padi, sawah tanpa genangan air dan perlakuan organik.
“Di Sumbar, kita mengenal dengan system tanam padi sabatang,” imbuhnya.
Selain pengambangan tanam padi sabatang, kata Marsilan, petani di Sumbar juga sudah mulai mengembangkan instalasi biogas kotoran ternak. 
“Untuk pengembangan biogas, kami belajar banyak dari program FIELD-Bumi Ceria.  Instalasi sederhana biogas hanya memakan biaya tidak lebih dari satu juta rupiah,” ungkap Marsilan.
Aktivis Lingkungan, Syafrizaldi, menilai apa yang dilakukan petani untuk mengurangi emisi gas rumah kaca merupakan langkah kecil yang berdampak besar.
“Coba saja bayangkan kalau semua petani sawah di Sumbar menerapkan SRI dan mengembangkan instalasi biogas, sudah berapa banyak emisi gas metana yang kita kurangi?” katanya.
Gas metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang mendorong terjadinya pemanasan global.  Selain itu, ada gas karbon dioksida, nitrogen oksida dan tiga gas-gas industri yang mengandung fluor (HFC, PFC, dan SF6). 
Menurutnya, uap air sebetulnya adalah gas rumah kaca yang paling kuat.  Tetapi karena usianya di atmosfer hanya terbilang beberapa hari, maka potensi pemanasan globalnya tidak terlalu berpengaruh.
Selain tanam padi sabatang dan pengembangan instalasi biogas, petani juga dapat melakukan upaya-upaya kecil dengan menanam pohon. 
“Tanam pohon juga tidak butuh modal besar, yang penting harus dipelihara agar dapat tumbuh dan menghasilkan.  Sepanjang pertumbuhannya itu, pohon dapat mereduksi karbon sehingga meminimalkan emisinya ke udara,” papar Syafrizaldi.

Tidak ada komentar: